Semestaku yang Hilang

Menunggu pagi dengan gelisah via Fake Smile

Senja boleh padam ditinggalkan matahari,

tapi bintang menawarkan temaram di sudut sepi,

serupa aku yang sedang menggenapi pelepasanmu bersama kenangan di ujung pagi. 

Aristoteles pernah bersabda

Tiada aku sama dengan kamu

Tiada kamu sama dengan dia

Tiadalah aku akan pernah sama dengan mu meski punya keidentikan

maka, setiap hal adalah dirinya sendiri.



Pula tentang ada dan ketiadaan

ada karena ada yang memeradakan

ada tidak pernah lahir dari ketiadaan

sama dengan semesta,

tidak hadir dari sebuah kehancuran

tapi dari sebuah keadaan yang kecil terendapkan bernama asal muasal

lalu mikrokosmik menjelma semesta raya



Pula aku denganmu.

Tiada aku jatuh tanpa sebab

tidak mungkin ada tangis tanpa sembab

kamu adalah semesta 

dia adalah pusara kelam di ujung sana

merenggutmu dari angkasa raya,


dari aku, dari yang menyayangimu dengan sederhana.
Di sepenggalah matahari, 9 Juni 2017.

Aku Berhenti

Dari hujan aku belajar, mengizinkan yang baru saja datang segera pergi, membiarkannya jumawa bersama pelangi.

Menatapmu dari jauh via Fake Smile

Kepada kamu, laki-laki yang menjadikan aku sebagai pelarian.

Aku memutuskan untuk berhenti menjadi tempat persinggahan. Awalnya aku memang hanya menyuguhkanmu kopi sambil menunggu redanya hujan. Tapi perlahan aku jatuh hingga kemudian memberi hati secara berlebihan.

Aku bukan tidak tahu apa makna sebuah sampingan. Aku menyadari bahwa betapa aku hanya sekilas bayang yang mengerti sisi lain tentang dirimu yang orang lain tak pernah tahu. Aku mengerti, aku adalah perempuan yang membuatmu nyaman dengan segala pembicaraan. Tidak sekadar mendengar, tapi aku adalah temanmu berbagi keresahan. Memecah pikiran dengan analisis tajam. Dari koheren hingga resisten. Dari determiner hingga komplimenter. Tapi, semuanya tidak bisa lagi terus begitu, karena aku seorang perempuan. 

Tidak kah kau tahu bahwa harga diri seorang perempuan adalah mahkota? Ia adalah dedikasi. Tingginya terletak pada kesetiaan, pengabdian, juga kepada ketulusan dan kelapangan memberikan waktu dan apa saja yang ia bisai. Tidak juakah kau mengerti, Tuan?

Kamu, laki-laki yang perlahan menjadi semestaku. Aku memilih pura-pura tidak tahu dijadikan sebagai pelarian, bukan karena terlanjur menyukai, atau terlanjur memberi hati, tapi karena aku tidak punya pilihan lain selain menetap, duduk disitu bersamamu, menyesapi waktu dan menerima keadaanmu yang entah setiap datang dalam keadaan kusut masai tak terurus. Mana bisa aku melihatmu remuk redam begitu? Tidak mungkin!

Sekarang, aku memilih berhenti. Membiarkanmu terus berjalan kepada yang pertama, atau kepada yang kedua, atau kepada siapapun yang kau suka. Menatapmu berlalu, tidak kembali, tidak berpaling sama sekali. Lalu aku tersenyum menatap punggung yang jumawa. Lalu aku melangkah maju mengejarmu, tapi ke arah yang berbeda.

Terima kasih atas segala pelajaran, semoga Yang Maha Agung menghidupkan hatimu yang merana. Menyenyapkan emosi dan keegoisan diri dalam otak dan benak. Semoga jalan yang kau pilih adalah menatap pada yang tulus tak terukur, menerima keapaadanyaan, memberi rasa nyaman, dan bisa menjadi segala hal yang bisa kau bicarakan.

Dari aku perempuan biasa yang telah bernafas lega menengokmu dari kejauhan, dari beranda sosial media, dan kemudian berkata “Syukurlah, kamu masih baik-baik saja”. Kemudian aku duduk, menikmati hujan di tepian. Menarik nafas yang dalam. Menyesapi aroma kopi. Menatap jauh, menerawang panjang, lalu melupakanmu perlahan.

18 Mei 2017

Atas Nama Cinta, Aku Izinkan Diriku Jatuh Cinta

Memilih tidak mengintipmu walau sedikit via Fake Smile

Aku adalah yang terlebih dahulu jatuh. Dan kemudian terduduk sendiri. Lalu terlambat menyadari bahwa kamu telah beranjak, jauh berlari menuju dia yang kau sebut matahari.


Aku adalah yang sepersekian waktu lalu kau buat jatuh hati dengan tatapan tulus nan rupawan. Bahkan dawai gitar dari teleponmu yang berdering, rambut ikalmu yang tak di sisir, jaket belel yang terselampir. Aih, aku tidak bisa menghitungnya satu per satu. Kamu penuh daya tarik.

Kata orang, tidak ada yang begitu pedih selain mencintai dalam diam. Bagiku tidak demikian. Justru dengan begini kepemilikan atas perasaanku sendiri sangat besar. Tidak ada intimidasi atas tuntutan kesempurnaan balasan. Aku bebas seratus persen mencintaimu dari sini tanpa perlu kau ketahui. 

Kamu ingat, Sapardi Djoko Damono dalam sajaknya melarikkan bait yang teramat gagah?

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Didahasiakan rintik rindunya

Kepada phon berbunga itu

-Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni-

Tapi aku bukan hujan yang mengguyurimu rindu hingga kebasahan. Bukan pula terik yang menyilaukanmu kehausan. Aku adalah aku yang secara mandiri memberi hati tapi tidak mengharapkanmu berbagi. Hanya yang sedang kasmaran tanpa inginkan adanya beban keharusan sebuah pembalasan. 

Kenapa demikian? Aku yang mengizinkan! Aku yang memberi izin hati ini jatuh cinta pada rupa-rupa laki-laki yang jangkung, yang shalih, yang rupawan, atletis, tambun, dan sebagainya. Aku memang begitu, suka sekali jatuh cinta pada pandangan yang tak disangka-sangka.

Meski kemudian kamu menemukan tambatan, barulah aku mengalah. Aku kembali mengizinkan diriku berhenti mencintai segala hal tentangmu. Tapi tidak dengan ingatanku. 

Mengizinkan hati lalu membiarkan mataku melihatmu berjuang mati-matian mengejar perempuan yang kau sebut matahari, meski perih, aku lakukan. Agar kemudian aku patah hati, lalu segera menemukan jalan kembali pulang pada keadaan sebelumnya: biasa.

Atas nama cinta aku mengizinkan hatiku menyelami tabula rasa hidup. Terang dan redup. Perih dan bingar. Sendu dan nanar. Agar kelak kemudian aku terbiasa pada bangkit karena terlalu sering menjunpai jatuh dan sakit. 
Mei 2017, Mengingati perjalanan berdua sepekan penuh, dan kemudian jatuh cinta sendirian.

 

Lepas

Sedang berpikir mengapa aku diabaikan via “Fake Smile”

Kemarin kau berisik
menyebar kemelut
menguras emosi
lalu hilang begitu saja

Dan aku meruntuki
Planetarium yang mengeliminasi pluto
NASA mungkin tak peduli
Tapi tahukah mereka andai jadi sepertinya?
Tersisih
Terbuang
Terasing

Dan lalu aku mengingatmu
Ketika makan roti isi
Selainya kau pinggirkan
Kau tumpuk menggunung
Lalu menyuapiku tanpa ‘ba bi bu’

Dan lalu aku ingat lagi
Kemarin kau hilang
Belum kembali
Dari pelarian
Dalam kegundahan

Dan aku ingin meredam
Rindu yang jalang
Aku ingin sendiri
Menepi dalam kedamaian.

Hening, 2017

Hilang

Sedang mikirin kamu via Teenager (OA Line)

Aku tidak tahu bagaimana bumi berotasi. 
Tapi aku tahu, saat aku lapar aku butuh nasi.
Tapi aku juga tidak tahu banyak hal
Misalnya, saat kamu pergi
Bersama siapa, memandang apa, lalu apa,

Kemudian aku berhenti,
Diam dan bertanya,
Bagaimana agar aku mengetahui?

Untuk kamu, yang hilang sepanjang hari.
Pagi-pagi, 2017.

Wajah

Ke pelukan lain via akun Instagram

Aku ingin makan,
tapi kamu disitu,
duduk diam,
tersenyum manis.

Menjelma Sushi,
Padahal aku harus makan,
biar terus hidup,
menemani kamu,
meski enggan,
meski sudah pulang,
ke lain pelukan.
Siang-siang, 2017.

Keputusan

Perlahan menjadi layu via @ladyjavva

Sayang, 

Tadi malam aku bermimpi

ada gadis berkalung cemeti. Seram.
Paginya aku bertemu kamu

pamit pergi ke perantauan. 

Saat aku bangun, 

pesanmu berhamburan,

Bahwa kita tak lagi sejalan.

Ya sudah, tak ada lagi yang bisa kukatakan.

Senin siang, 2017.

Yang Tersulit

Daun yang berguguran via @ladyjavva

Aku butuh waktu
Menenangkan hati dan jiwaku
Atas ketidaksiapanku pada
Hilangnya sebuah pengikat diantara kita

Ku cumbu sungai,
Ada kamu.
Ku telusuri belukar,
Ada kamu.
Ku diam tak berbuat,
Ada kamu di kepala

Sungguh, melupakanmu adalah yang tersulit.

Di ujung pagi, 2017.

​Rindu(?)

Mekar sebelum layu via @ladyjavva

Kau tahu aku rindu
Kau tahu aku menunggu

Mengulang.
Menapak jejak.
Terperangah.
Terjebak waktu.
Terbawa nuansa.

Dan akhirnya aku tahu,
meski rindu, aku tak lagi berhak boleh begitu.

Di suatu siang yang sedang terik, 2017.

Aku Rindu, Itu Saja

Malu, mau, juga rindu ke kamu via Sad Note (OA Line)

Aku sedang berlindung dari derasnya hujan. Padahal sekian waktu sebelumnya terik sampai membuat tenggorokanku panas. Aku berteduh di tepi trotoar. Bersenandung mengingati banyak hal. Dan lalu, ada kamu di sana.
Kau tau betul bagaimana aku risih dengan keribetan. Kapanpun aku lelah, aku akan berhenti. Dimana saja. Asal bukan di tempatmu.

Kapanpun aku lapar, aku akan makan, apa saja, dimana saja, tak terkecuali di pinggir jalan yang dilewati beragam asap kendaraan hingga bau selokan yang menyengat. Ya, Aku memang begini. Higinitas selalu berada dibawah urgensi situasi. Dan aku memilih begitu karena aku tidak mau menjadi apa yang orang mau.

Begitu pula bakso yang kupesan tiga menit lalu. Kau tau betul bahwa aku akan mengatakan apapun kepada siapapun tanpa  babibu dengan dalih ‘demi kebaikan’. Aku beri tahu si Abang, “Bakso Abang enak, tapi kuahnya kurang sedikit ‘rasa’.” Dalam hati sebenarnya aku berprasangka “Kurang penyedap, sih, ini kuahnya” tapi urung kusampaikan karena di gerobaknya terpasang slogan “Bakso sehat tanpa vets*n”. Ah!

Bagaimana mungkin penyedap digilulirkan sebagai sesuatu yang “tidak sehat”? Bagaimana mungkin Abang bakso lebih mengerti higinitas dibanding kaum-kaum sosial pengidap kebebasan akut serupa aku? Aih.

Yasudah. Sore yang dawai aku senandungi dengan sebuah lagu yang sering kau melodikan di beranda tempat tinggalku: Untittled milik Simple Plan.

Lagu yang entah kali ini terasa ‘pas’, ‘tepat’, sesuai, bilamana aku mengingati kamu telah tidak ada lagi bersamaku menyenandungkan nada2 glamor sekaligus sendu di hujan-hujan kedepan.

Aku terlalu rumit, memang. Padahal, aku hanya ingin berkata, “Aku rindu kamu!” Itu saja.