Aku, Kamu, dan Kenangan yang Kita Sia-siakan

 

Hari ini adalah waktu yang kesekian kalinya kau datang dengan tatapan masam. Aku tahu, ini juga yang kesekian kalinya kamu dicampakkan oleh gadismu. Dan kamu selalu melakukan hal yang sama: datang padaku, lalu menangis sejadi-jadinya.

Bagiku, tidak ada yang begitu berat untuk ditanggung, tapi rindu bisa. Sekuat-kuatnya aku di depanmu, tapi melihatmu tergugu dan jatuh seperti itu membuatku tersiksa. Aku turut merasakan sakitnya.

Beberapa tahun lalu adalah masa di mana kita hanya biasa, lalu tertulari cemburu, hingga kemudian aku suka. Ah iya. Kita memang tidak lama terikat. Tapi kebersamaan kita selama ini begitu mengikat. Aku sampai tidak berani menjamah hati lelaki mana pun, agar tempat mu tidak tergantikan sama sekali. Tapi aku sadar diri. Karena seorang teman, tidak akan pernah kau utamakan.

Hari ini, bersama sneakers yang kita beli bersama waktu itu, kau gunakan ia mendatangiku, selalu. Kau tahu betul caranya membuatku iba, kasihan, tak rela, tak tega. Aduh. Lelaki sepertimu seharusnya jadi pendamping hidup idaman. Tapi sayang, beribu-ribu kali aku sayang, kamu tidak mau aku sayang.

Hari ini, tepat seribu tujuh ratus kali matahari timbul tenggelam diatas kepala kita, dan kau masih terus saja datang padaku. Seperti tak ada bedanya.

Kadang memang, kita suka sekali mencari-cari bahagia ke berbagai tempat. Menyebrangi hamparan samudra, mendaki tinggi gunung, bahkan melintasi sejauh-jauh hati manusia. Padahal yang menenangkan ada disekitar saja. Terduduk diam menunggu, menyeduhkan teh manis, menawarkan pelukan hangat.

Bahkan, kadang bahagia ada dalam ingatan, ada dalam dekapan perasaan, ada dalam setumpuk rindu yang kita sedimentasikan. Terburu-buru berusaha melupakan sebenarnya adalah cara paling menyakitkan untuk melupakan. Kenapa tidak kita rawat saja perasaan itu, kita pupuk lagi rasanya dengan tulus, sehingga kelak melepaskan adalah hal yang melegakan. Bukan keterpaksaan.

Sekarang, aku dan kamu dalam satu jarak sepersekian pandangan. Aku hidangkan tayangan lama. Sepucuk surat yang kau buat naratif dengan dering nada melankolis. Kamu yang dulu masih begitu tulus dan lugu. Kamu yang untuk kesekian kalinya masih jadi nomor satu. Ya. Tiba-tiba tawamu pecah seketika. Menganggap ini lucu, padahal sebenarnya rindu.

Inilah kenangan yang kita sia-siakan. Sebuah bahagia yang ditinggalkan dibelakang. Tanpa dijenguk, tanpa dinantikan. Ia lah kenangan yang merindu di sapa: aku, perempuan yang kau datangi saat sedang kehujanan.

Dipenghujung sore, 11 April 2017.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s