Kepada Aku…

Aku adalah kamu yang ke-22 via @ladyjavva

Dengan segenap rasa tanggung jawab, aku menulis surat terbuka kepada k(am)u.

Aku adalah sebuah elegi panjang atas masa muda yang gemilang. Terbentang jauh ke Selat Makassar melewati Gili Trawangan, hingga menengadah gundah ke tanah Borneo. Aku adalah yang beriak kesana kemari dengan slogan-slogan idealis tanpa praktis menunjuk diri. 

Aku adalah gadis Jawa yang memegang teguh adat sungkem kepada yang sepuh dan bertutur lembut pada yang harus di tuntun. Gadis muda berdedikasi tinggi pada apa saja yang dicintainya. Tapi sayang…

Aku adalah yang kecewa tiada terukur pada manisnya kepercayaan dan idealitas. Totalitasku tiada berarti bagi mereka yang menuntut segala sempurna padahal itu serupa pelangi, indah karena cirinya sendiri. Pula aku, yang kini menarik diri dari kaum idealis berideologi perfeksionis. Aku lelah membudakkan diri pada pemaksaan keharusan akan harusnya aku menjadi aku yang mereka mau.

Aku adalah k(am)u yang berupa-rupa wajah. Salih pada cendekia, binal di balik semuanya. Aku adalah yang terbelenggu dalam kenikmatan sendiri. Pada hal yang tabu yang tidak dimengerti siapapun meski mereka (bisa jadi) melakukan hal yang sama. 

Aku adalah k(am)u yang sedang melakukan perjalanan panjang menjamah butir-butir yang kaum predikat sebut sebagai prestasi. Dan aku memutuskan sesuatu yang besar. Sesuatu yang tidak akan diridhoi bahkan oleh kesadaranku sendiri. 

Aku si perempuan biasa yang masih belum bisa apa-apa. Yang telah memutuskan berhenti mencintai lelaki kemarin yang lebih seribu kali dibersamai dalam timbul tenggelamnya matahari di sudut ruang gelap. Aku yang memutuskan. Aku berhak! 

Aku adalah k(am)u yang setiap hari mencoba berusaha tidak kecanduan pada kafein tapi selalu gagal di akhir hingga kemudian bermetamorfosis menjadi nokturnalian akut yang moody. 

Aku perempuan biasa yang sedang bergelut dengan keputusan dan keputusasaan akan sebuah daftar seratus catatan yang hendak di raih tapi terbentangi luasnya jagat izin berkah dari Tuhan. 

Aku adalah k(am)u yang masih mendambakan faedahnya hidup sebagai seorang yang beriman, berlaku baik, salih sepanjang hidup, tak pernah redup, tapi berkali-kali terpuruk di sudut identitas, kehilangan rasionalitas akan entitas semangat hidup. 

Ya. Aku adalah kamu yang berkali-kali menyerah dan jatuh, tapi yang berkali-kali pula bangkit karena tau lelah adalah tanda bahwa kita pantang menyerah. 

Dirgahayu, Aku. Aku adalah kamu yang saat ini sedang menyelami banyak keputusan berat. Entah sedang kau baca dalam keadaan lurus, tidak adil, sedang berdiam diri menyeduh kopi, atau sedang terduduk menangis sendirian, atau sedang bersama siapapun yang tumpangi menyandarkan diri yang teramat kelelahan, semoga setiap hari kau dapati kelebihbaikan hidup. 

Selamat meninggalkan aku, k(am)u. Untuk yang kesekian kalinya tidak satu pun lelaki yang datang diberi lisensi membersami diri bertemu pagi setiap waktu. Lalu, aku menjadi runyam. Aku adalah perempuan biasa yang mati-matian mempertahankan keperawanan atas dirinya sendiri. 

Sekali lagi, dirgahayu diri. Selamat menanti hingga waktunya tiba. Aku adalah aku yang senantiasa menuju mawas setiap waktu. Ingatlah bahwa aku adalah kegemilangan masa yang pernah kau lewati.

Barakallahu fii umrik, Tuhan menjamah hamba-hamba yang giat menengadah.

Dari aku, 22.
Suatu pagi menjelang bekerja, aku disempurnakan, 3 Mei 2017.

Beragam wajah via Sad Note (Line Official Account)

4 thoughts on “Kepada Aku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s