Atas Nama Cinta, Aku Izinkan Diriku Jatuh Cinta

Memilih tidak mengintipmu walau sedikit via Fake Smile

Aku adalah yang terlebih dahulu jatuh. Dan kemudian terduduk sendiri. Lalu terlambat menyadari bahwa kamu telah beranjak, jauh berlari menuju dia yang kau sebut matahari.


Aku adalah yang sepersekian waktu lalu kau buat jatuh hati dengan tatapan tulus nan rupawan. Bahkan dawai gitar dari teleponmu yang berdering, rambut ikalmu yang tak di sisir, jaket belel yang terselampir. Aih, aku tidak bisa menghitungnya satu per satu. Kamu penuh daya tarik.

Kata orang, tidak ada yang begitu pedih selain mencintai dalam diam. Bagiku tidak demikian. Justru dengan begini kepemilikan atas perasaanku sendiri sangat besar. Tidak ada intimidasi atas tuntutan kesempurnaan balasan. Aku bebas seratus persen mencintaimu dari sini tanpa perlu kau ketahui. 

Kamu ingat, Sapardi Djoko Damono dalam sajaknya melarikkan bait yang teramat gagah?

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Didahasiakan rintik rindunya

Kepada phon berbunga itu

-Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni-

Tapi aku bukan hujan yang mengguyurimu rindu hingga kebasahan. Bukan pula terik yang menyilaukanmu kehausan. Aku adalah aku yang secara mandiri memberi hati tapi tidak mengharapkanmu berbagi. Hanya yang sedang kasmaran tanpa inginkan adanya beban keharusan sebuah pembalasan. 

Kenapa demikian? Aku yang mengizinkan! Aku yang memberi izin hati ini jatuh cinta pada rupa-rupa laki-laki yang jangkung, yang shalih, yang rupawan, atletis, tambun, dan sebagainya. Aku memang begitu, suka sekali jatuh cinta pada pandangan yang tak disangka-sangka.

Meski kemudian kamu menemukan tambatan, barulah aku mengalah. Aku kembali mengizinkan diriku berhenti mencintai segala hal tentangmu. Tapi tidak dengan ingatanku. 

Mengizinkan hati lalu membiarkan mataku melihatmu berjuang mati-matian mengejar perempuan yang kau sebut matahari, meski perih, aku lakukan. Agar kemudian aku patah hati, lalu segera menemukan jalan kembali pulang pada keadaan sebelumnya: biasa.

Atas nama cinta aku mengizinkan hatiku menyelami tabula rasa hidup. Terang dan redup. Perih dan bingar. Sendu dan nanar. Agar kelak kemudian aku terbiasa pada bangkit karena terlalu sering menjunpai jatuh dan sakit. 
Mei 2017, Mengingati perjalanan berdua sepekan penuh, dan kemudian jatuh cinta sendirian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s