Aku Berhenti

Dari hujan aku belajar, mengizinkan yang baru saja datang segera pergi, membiarkannya jumawa bersama pelangi.

Menatapmu dari jauh via Fake Smile

Kepada kamu, laki-laki yang menjadikan aku sebagai pelarian.

Aku memutuskan untuk berhenti menjadi tempat persinggahan. Awalnya aku memang hanya menyuguhkanmu kopi sambil menunggu redanya hujan. Tapi perlahan aku jatuh hingga kemudian memberi hati secara berlebihan.

Aku bukan tidak tahu apa makna sebuah sampingan. Aku menyadari bahwa betapa aku hanya sekilas bayang yang mengerti sisi lain tentang dirimu yang orang lain tak pernah tahu. Aku mengerti, aku adalah perempuan yang membuatmu nyaman dengan segala pembicaraan. Tidak sekadar mendengar, tapi aku adalah temanmu berbagi keresahan. Memecah pikiran dengan analisis tajam. Dari koheren hingga resisten. Dari determiner hingga komplimenter. Tapi, semuanya tidak bisa lagi terus begitu, karena aku seorang perempuan. 

Tidak kah kau tahu bahwa harga diri seorang perempuan adalah mahkota? Ia adalah dedikasi. Tingginya terletak pada kesetiaan, pengabdian, juga kepada ketulusan dan kelapangan memberikan waktu dan apa saja yang ia bisai. Tidak juakah kau mengerti, Tuan?

Kamu, laki-laki yang perlahan menjadi semestaku. Aku memilih pura-pura tidak tahu dijadikan sebagai pelarian, bukan karena terlanjur menyukai, atau terlanjur memberi hati, tapi karena aku tidak punya pilihan lain selain menetap, duduk disitu bersamamu, menyesapi waktu dan menerima keadaanmu yang entah setiap datang dalam keadaan kusut masai tak terurus. Mana bisa aku melihatmu remuk redam begitu? Tidak mungkin!

Sekarang, aku memilih berhenti. Membiarkanmu terus berjalan kepada yang pertama, atau kepada yang kedua, atau kepada siapapun yang kau suka. Menatapmu berlalu, tidak kembali, tidak berpaling sama sekali. Lalu aku tersenyum menatap punggung yang jumawa. Lalu aku melangkah maju mengejarmu, tapi ke arah yang berbeda.

Terima kasih atas segala pelajaran, semoga Yang Maha Agung menghidupkan hatimu yang merana. Menyenyapkan emosi dan keegoisan diri dalam otak dan benak. Semoga jalan yang kau pilih adalah menatap pada yang tulus tak terukur, menerima keapaadanyaan, memberi rasa nyaman, dan bisa menjadi segala hal yang bisa kau bicarakan.

Dari aku perempuan biasa yang telah bernafas lega menengokmu dari kejauhan, dari beranda sosial media, dan kemudian berkata “Syukurlah, kamu masih baik-baik saja”. Kemudian aku duduk, menikmati hujan di tepian. Menarik nafas yang dalam. Menyesapi aroma kopi. Menatap jauh, menerawang panjang, lalu melupakanmu perlahan.

18 Mei 2017

2 thoughts on “Aku Berhenti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s