​Tungku Kepada Api

Tidak ada yang paling marah

Selain tungku kepada api

Dihabiskannya dirinya

Pada cinta yang teramat mati
Tidak ada yang paling murka

Selain tungku kepada api

Dilumatkan dirinya 

Pada amarah dan benci
Tidak ada yang begitu mencintai

Selain tungku kepada api

Dihabiskannya cinta

Hanya kepada api
2 Agustus 2017, Persimpangan Kiri.

​Merayakan Kehilangan

Dikatakan kepada langit
Terik menyuruh pulang

Disuarakan kepada laut

Buih menyuruhnya pulang

Gamang…
Diteriakkannya kepada fajar

Pagi menyuruh ia pulang

Ditangiskannya kepada malam

Dingin menyuruhnya pulang

Lengang…
Kepada cermin ia bertanya

Kepada langit-langit ia meratap

Kepada tungku ia mengaku

Pada dudukan batu ia berjibaku
Kemudian sudut-sudut lapang mengingatkan 

Lantai tempatmu meneriakkan

Ia yang menyeyapkanmu dari keramaian

Merayakan kehilangan.
2 Agustus 2017, Persimpangan Kiri.

​Kepadamu Tuan


Jika Romeo kepada Juliet

Bila William kepada Kate

Maka Aku masih kepadamu, Tuan
Yang adanya kau tiadakan

Hadirnya kau alfakan

Ramainya kau senyapkan

Percayanya kau hianatkan
Hujan belum datang

Tapi Tuan telah pergi

Sedang aku masih kepadamu, Tuan.
2 Agustus 2017, Persimpangan Kiri.

Apa Gerangan?

Apa gerangan? Via Pixabay

Ada kisah yang ingin kita ulang
Pula ada kisah yang ingin kita buang

Tapi tidak dengan harapan

Apalagi perihal masa depan
Berakit-rakit kesulitan

Merangkak-rangkak kedukaan

Menjadi-jadi penyesalan

Beriak-riak segala ujian
Tapi matahari belum berakhir di barat

Esok masih pagi dari timur

Lalu, apa gerangan yang membuatmu berhenti?

Pagi-pagi, 2017.

Adalah Kamu

Menujumu dengan jalan yang lain via Pixabay

Kamu adalah alasan mengapa aku bertahan…

Tepian, adalah jalan lapang yang ku pilih setelah kita menjadi senyap. Berlarut-larut luka kemarin memang masih ada, tentu, tapi mengingatimu dengan duka adalah salah. 

Aku telah mengizinkan hatiku berkali-kali patah, atasmu, hingga pada akhirnya memilih berbenah kemudian menengadah. Kamu masih bisa aku langitkan, pikirku. Tidak ada alasanku berhenti mencintai meski berluang kali kau begitu: datang dan pergi sesukamu. Karena berhenti mencintai sama seperti menyakiti imanku. 

Empat kali gerhana bulan berulang, langit beradu pada jingganya, tapi belum pernah sekalipun melewatkan doaku atasmu. Betul, langit tidak menjawab, tapi ia mendengar tanpa banyak pertanyaan, tanpa penghakiman. 

Tepian ini adalah jalan terbaik yang kupilih setelah semua jalan yang lain terlewati. Aku memilih menepi, menjauhi, tapi tidak pula membenci. 

Aku yang bertahan dengan segala yang ku yakini, sedang kamu di sana dengan siapapun yang telah membuatmu tertaut kembali. 

Ya. Adalah kamu sebagai alasan mengapa aku bertahan sejauh ini. Tidak menyendiri, tidak mengurung diri, tidak menjadi ‘mati’ hanya karena patah hati. Karena alasanmu tertaut dulu adalah karena aku yang tidak rapuh pada patahan yang sebelumnya. 

Tapi sayang, seharusnya cinta hanya begitu, tanpa alasan, tanpa banyak permintaan.

Di awal petang setelah peluh, 2017.

Semestaku yang Hilang

Menunggu pagi dengan gelisah via Fake Smile

Senja boleh padam ditinggalkan matahari,

tapi bintang menawarkan temaram di sudut sepi,

serupa aku yang sedang menggenapi pelepasanmu bersama kenangan di ujung pagi. 

Aristoteles pernah bersabda

Tiada aku sama dengan kamu

Tiada kamu sama dengan dia

Tiadalah aku akan pernah sama dengan mu meski punya keidentikan

maka, setiap hal adalah dirinya sendiri.



Pula tentang ada dan ketiadaan

ada karena ada yang memeradakan

ada tidak pernah lahir dari ketiadaan

sama dengan semesta,

tidak hadir dari sebuah kehancuran

tapi dari sebuah keadaan yang kecil terendapkan bernama asal muasal

lalu mikrokosmik menjelma semesta raya



Pula aku denganmu.

Tiada aku jatuh tanpa sebab

tidak mungkin ada tangis tanpa sembab

kamu adalah semesta 

dia adalah pusara kelam di ujung sana

merenggutmu dari angkasa raya,


dari aku, dari yang menyayangimu dengan sederhana.
Di sepenggalah matahari, 9 Juni 2017.

Aku Berhenti

Dari hujan aku belajar, mengizinkan yang baru saja datang segera pergi, membiarkannya jumawa bersama pelangi.

Menatapmu dari jauh via Fake Smile

Kepada kamu, laki-laki yang menjadikan aku sebagai pelarian.

Aku memutuskan untuk berhenti menjadi tempat persinggahan. Awalnya aku memang hanya menyuguhkanmu kopi sambil menunggu redanya hujan. Tapi perlahan aku jatuh hingga kemudian memberi hati secara berlebihan.

Aku bukan tidak tahu apa makna sebuah sampingan. Aku menyadari bahwa betapa aku hanya sekilas bayang yang mengerti sisi lain tentang dirimu yang orang lain tak pernah tahu. Aku mengerti, aku adalah perempuan yang membuatmu nyaman dengan segala pembicaraan. Tidak sekadar mendengar, tapi aku adalah temanmu berbagi keresahan. Memecah pikiran dengan analisis tajam. Dari koheren hingga resisten. Dari determiner hingga komplimenter. Tapi, semuanya tidak bisa lagi terus begitu, karena aku seorang perempuan. 

Tidak kah kau tahu bahwa harga diri seorang perempuan adalah mahkota? Ia adalah dedikasi. Tingginya terletak pada kesetiaan, pengabdian, juga kepada ketulusan dan kelapangan memberikan waktu dan apa saja yang ia bisai. Tidak juakah kau mengerti, Tuan?

Kamu, laki-laki yang perlahan menjadi semestaku. Aku memilih pura-pura tidak tahu dijadikan sebagai pelarian, bukan karena terlanjur menyukai, atau terlanjur memberi hati, tapi karena aku tidak punya pilihan lain selain menetap, duduk disitu bersamamu, menyesapi waktu dan menerima keadaanmu yang entah setiap datang dalam keadaan kusut masai tak terurus. Mana bisa aku melihatmu remuk redam begitu? Tidak mungkin!

Sekarang, aku memilih berhenti. Membiarkanmu terus berjalan kepada yang pertama, atau kepada yang kedua, atau kepada siapapun yang kau suka. Menatapmu berlalu, tidak kembali, tidak berpaling sama sekali. Lalu aku tersenyum menatap punggung yang jumawa. Lalu aku melangkah maju mengejarmu, tapi ke arah yang berbeda.

Terima kasih atas segala pelajaran, semoga Yang Maha Agung menghidupkan hatimu yang merana. Menyenyapkan emosi dan keegoisan diri dalam otak dan benak. Semoga jalan yang kau pilih adalah menatap pada yang tulus tak terukur, menerima keapaadanyaan, memberi rasa nyaman, dan bisa menjadi segala hal yang bisa kau bicarakan.

Dari aku perempuan biasa yang telah bernafas lega menengokmu dari kejauhan, dari beranda sosial media, dan kemudian berkata “Syukurlah, kamu masih baik-baik saja”. Kemudian aku duduk, menikmati hujan di tepian. Menarik nafas yang dalam. Menyesapi aroma kopi. Menatap jauh, menerawang panjang, lalu melupakanmu perlahan.

18 Mei 2017

Atas Nama Cinta, Aku Izinkan Diriku Jatuh Cinta

Memilih tidak mengintipmu walau sedikit via Fake Smile

Aku adalah yang terlebih dahulu jatuh. Dan kemudian terduduk sendiri. Lalu terlambat menyadari bahwa kamu telah beranjak, jauh berlari menuju dia yang kau sebut matahari.


Aku adalah yang sepersekian waktu lalu kau buat jatuh hati dengan tatapan tulus nan rupawan. Bahkan dawai gitar dari teleponmu yang berdering, rambut ikalmu yang tak di sisir, jaket belel yang terselampir. Aih, aku tidak bisa menghitungnya satu per satu. Kamu penuh daya tarik.

Kata orang, tidak ada yang begitu pedih selain mencintai dalam diam. Bagiku tidak demikian. Justru dengan begini kepemilikan atas perasaanku sendiri sangat besar. Tidak ada intimidasi atas tuntutan kesempurnaan balasan. Aku bebas seratus persen mencintaimu dari sini tanpa perlu kau ketahui. 

Kamu ingat, Sapardi Djoko Damono dalam sajaknya melarikkan bait yang teramat gagah?

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Didahasiakan rintik rindunya

Kepada phon berbunga itu

-Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni-

Tapi aku bukan hujan yang mengguyurimu rindu hingga kebasahan. Bukan pula terik yang menyilaukanmu kehausan. Aku adalah aku yang secara mandiri memberi hati tapi tidak mengharapkanmu berbagi. Hanya yang sedang kasmaran tanpa inginkan adanya beban keharusan sebuah pembalasan. 

Kenapa demikian? Aku yang mengizinkan! Aku yang memberi izin hati ini jatuh cinta pada rupa-rupa laki-laki yang jangkung, yang shalih, yang rupawan, atletis, tambun, dan sebagainya. Aku memang begitu, suka sekali jatuh cinta pada pandangan yang tak disangka-sangka.

Meski kemudian kamu menemukan tambatan, barulah aku mengalah. Aku kembali mengizinkan diriku berhenti mencintai segala hal tentangmu. Tapi tidak dengan ingatanku. 

Mengizinkan hati lalu membiarkan mataku melihatmu berjuang mati-matian mengejar perempuan yang kau sebut matahari, meski perih, aku lakukan. Agar kemudian aku patah hati, lalu segera menemukan jalan kembali pulang pada keadaan sebelumnya: biasa.

Atas nama cinta aku mengizinkan hatiku menyelami tabula rasa hidup. Terang dan redup. Perih dan bingar. Sendu dan nanar. Agar kelak kemudian aku terbiasa pada bangkit karena terlalu sering menjunpai jatuh dan sakit. 
Mei 2017, Mengingati perjalanan berdua sepekan penuh, dan kemudian jatuh cinta sendirian.

 

Lepas

Sedang berpikir mengapa aku diabaikan via “Fake Smile”

Kemarin kau berisik
menyebar kemelut
menguras emosi
lalu hilang begitu saja

Dan aku meruntuki
Planetarium yang mengeliminasi pluto
NASA mungkin tak peduli
Tapi tahukah mereka andai jadi sepertinya?
Tersisih
Terbuang
Terasing

Dan lalu aku mengingatmu
Ketika makan roti isi
Selainya kau pinggirkan
Kau tumpuk menggunung
Lalu menyuapiku tanpa ‘ba bi bu’

Dan lalu aku ingat lagi
Kemarin kau hilang
Belum kembali
Dari pelarian
Dalam kegundahan

Dan aku ingin meredam
Rindu yang jalang
Aku ingin sendiri
Menepi dalam kedamaian.

Hening, 2017

Hilang

Sedang mikirin kamu via Teenager (OA Line)

Aku tidak tahu bagaimana bumi berotasi. 
Tapi aku tahu, saat aku lapar aku butuh nasi.
Tapi aku juga tidak tahu banyak hal
Misalnya, saat kamu pergi
Bersama siapa, memandang apa, lalu apa,

Kemudian aku berhenti,
Diam dan bertanya,
Bagaimana agar aku mengetahui?

Untuk kamu, yang hilang sepanjang hari.
Pagi-pagi, 2017.