Aku Sayang Kamu. Udah, Gitu Aja.

Bahkan di seduhan kopi pun aku mengingati kamu via Sad Note (OA Line)

Kau bilang, cinta itu cukup seperlunya. “Pakai rasio!”
Aku menentangmu. Mencintai dengan rasionalitas adalah cinta yang paling tidak rasional.

Aku sudah bilang berkali-kali, berdasarkan hasil survei dari berbagai lembaga di seluruh dunia menyimpulkan data kuantitatif bahwa perempuan cenderung peka terhadap intuisi ketimbang rasionya. Dan aku perempuan biasa yang rasionya akan hidup bila intuisinya bergejolak. Aku mendadak cerdik ketika jatuh cinta. Dan kau memahami itu berulang kali.

Aku, sejujurnya tahu bahwa betapa harga diri sebagai seorang “perempuan” adalah menunggu di datangi dan di “pinang duluan”. Tapi aku membaliknya. Aku membuatmu tinggi dengan cinta yang kunyatakan berkali-kali. Inilah rasionalitas yang ku anut hingga detik ini. Memilihmu sebagai “rumah” meski kau sendiri tak pernah ingin pulang.

Aku berhak jatuh cinta kapan saja, dan patah hati sesukanya. Aku hanya bisa mencintai, bukan mengintimidasi.

Tugasku memberimu bahagia, sisanya terserah kamu mau bagaimana. Urusanku denganmu, bukan dengan masa lalu apalagi dengan kehidupan burukmu. Aku perempuan, berhak mencintai kamu sepenuhnya.

Aku ingat ucapan maaf yang berulang kali dulu kau sampaikan. Jelas, detil, dan mungkin bila aku terjangkit demensia saja aku bisa lupa. “Maaf, aku juga sayang kamu. Tapi bukan sebagai perempuan.” Kau tidak tahu bagaimana sulitnya aku memasang senyum tipis saat itu. Getir.

Tapi, kala itu lebih kusukai dari pada saat ini. Penolakan masih lebih baik dari pada pengabaian. Karena pengabaian berarti kau sama sekali ingin aku pergi dan tidak datang-datang lagi. Dulu, meski sepulang dari bertemu aku terduduk sendiri dan menangis sejadi-jadinya, aku masih semangat mencintai karena setelah tiba di kediaman kau tak lupa memberiku kabar “Nangis aja. Kan udah biasa aku tolak. Abis itu jangan lupa maskeran, biar gak ketauan abis nangis gila-gilaan. Sorry to broke you again and again.^^”.

Aku sedih. Tapi bisa tertawa seketika. Karena kekonyolan itu lucu. Dan patah hati yang kau parodikan dengan masker adalah yang selalu kulakukan sampai sekarang.

Dan sekarang aku memilih mundur. Memilih jalan lain yang entah menuju kemana. Aku memutuskan berhenti memberimu segalanya. Cukup ku adegankan dalam imajinasi dan keseharian tanpa pemeran utama. Aku masih begitu sayang, tapi tidak untuk memintamu datang.

Di sisi jalan yang ku tempuh terdapat rupa-rupa warna lain yang segar. Tapi mataku tidak nanar hanya karena mereka lebih bijaksana. Aku menyukai semuanya, tapi pijakan utamaku adalah kamu. Percuma saja.

Dan sekarang, inilah aku. Yang sedang belajar tidak mencumbuimu meski dalam harapan. Yang sedang belajar menjauh meski dari sepersekian pikiran. Yang sedang berlari memutar meski beratus-ratus kali gagal. Benar. Aku sedang belajar memaksa diriku berpikir rasional.

Dari sisi yang jatuh, aku mengenangkan, 6 Mei 2017

Kepada Aku…

Aku adalah kamu yang ke-22 via @ladyjavva

Dengan segenap rasa tanggung jawab, aku menulis surat terbuka kepada k(am)u.

Aku adalah sebuah elegi panjang atas masa muda yang gemilang. Terbentang jauh ke Selat Makassar melewati Gili Trawangan, hingga menengadah gundah ke tanah Borneo. Aku adalah yang beriak kesana kemari dengan slogan-slogan idealis tanpa praktis menunjuk diri. 

Aku adalah gadis Jawa yang memegang teguh adat sungkem kepada yang sepuh dan bertutur lembut pada yang harus di tuntun. Gadis muda berdedikasi tinggi pada apa saja yang dicintainya. Tapi sayang…

Aku adalah yang kecewa tiada terukur pada manisnya kepercayaan dan idealitas. Totalitasku tiada berarti bagi mereka yang menuntut segala sempurna padahal itu serupa pelangi, indah karena cirinya sendiri. Pula aku, yang kini menarik diri dari kaum idealis berideologi perfeksionis. Aku lelah membudakkan diri pada pemaksaan keharusan akan harusnya aku menjadi aku yang mereka mau.

Aku adalah k(am)u yang berupa-rupa wajah. Salih pada cendekia, binal di balik semuanya. Aku adalah yang terbelenggu dalam kenikmatan sendiri. Pada hal yang tabu yang tidak dimengerti siapapun meski mereka (bisa jadi) melakukan hal yang sama. 

Aku adalah k(am)u yang sedang melakukan perjalanan panjang menjamah butir-butir yang kaum predikat sebut sebagai prestasi. Dan aku memutuskan sesuatu yang besar. Sesuatu yang tidak akan diridhoi bahkan oleh kesadaranku sendiri. 

Aku si perempuan biasa yang masih belum bisa apa-apa. Yang telah memutuskan berhenti mencintai lelaki kemarin yang lebih seribu kali dibersamai dalam timbul tenggelamnya matahari di sudut ruang gelap. Aku yang memutuskan. Aku berhak! 

Aku adalah k(am)u yang setiap hari mencoba berusaha tidak kecanduan pada kafein tapi selalu gagal di akhir hingga kemudian bermetamorfosis menjadi nokturnalian akut yang moody. 

Aku perempuan biasa yang sedang bergelut dengan keputusan dan keputusasaan akan sebuah daftar seratus catatan yang hendak di raih tapi terbentangi luasnya jagat izin berkah dari Tuhan. 

Aku adalah k(am)u yang masih mendambakan faedahnya hidup sebagai seorang yang beriman, berlaku baik, salih sepanjang hidup, tak pernah redup, tapi berkali-kali terpuruk di sudut identitas, kehilangan rasionalitas akan entitas semangat hidup. 

Ya. Aku adalah kamu yang berkali-kali menyerah dan jatuh, tapi yang berkali-kali pula bangkit karena tau lelah adalah tanda bahwa kita pantang menyerah. 

Dirgahayu, Aku. Aku adalah kamu yang saat ini sedang menyelami banyak keputusan berat. Entah sedang kau baca dalam keadaan lurus, tidak adil, sedang berdiam diri menyeduh kopi, atau sedang terduduk menangis sendirian, atau sedang bersama siapapun yang tumpangi menyandarkan diri yang teramat kelelahan, semoga setiap hari kau dapati kelebihbaikan hidup. 

Selamat meninggalkan aku, k(am)u. Untuk yang kesekian kalinya tidak satu pun lelaki yang datang diberi lisensi membersami diri bertemu pagi setiap waktu. Lalu, aku menjadi runyam. Aku adalah perempuan biasa yang mati-matian mempertahankan keperawanan atas dirinya sendiri. 

Sekali lagi, dirgahayu diri. Selamat menanti hingga waktunya tiba. Aku adalah aku yang senantiasa menuju mawas setiap waktu. Ingatlah bahwa aku adalah kegemilangan masa yang pernah kau lewati.

Barakallahu fii umrik, Tuhan menjamah hamba-hamba yang giat menengadah.

Dari aku, 22.
Suatu pagi menjelang bekerja, aku disempurnakan, 3 Mei 2017.

Beragam wajah via Sad Note (Line Official Account)

Bagaimana Mungkin?

Bagaimana mungkin aku mencukur alis apabila otakku tak bergaris simetris pada ragam definisi?

Bagaimana mungkin aku mencoret bibir dengan gincu bila kepalaku masih seringan ampas tebu tanpa tahu untuk apa terus begitu?

Bagaimana mungkin aku memerhatikan kecantikan jika pikiranku terkungkungkan oleh kemalasan akan nikmatnya bercumbu dengan diksi rumit sekaligus nakal dalam bacaan?

Bagaimana mungkin aku menyebut diri perempuan bermartabat bila menolak cerdas mandiri selagi sempat?

Bagaimana mungkin aku menjadi aku bila aku tak memahami siapa aku?

Bagaimana mungkin aku mencinta laki-laki bila aku tak mengerti bahwa sperma pantang dibuahi oleh sel telur yang melarikan diri? Runyam.

 

Di sudut kota yang terik, 1 Mei 2017.

Mengelus kepala via Sad Note (OA Line)

Rumah Besar

​Bebauan kemenyan tiba-tiba menyeruak
Disebuah rumah besar yang banyak kamar
Kamis malam bakda magrib,
Ia sendirian.
Mengendus bau-bau yang menusuk ulu hati,
Ia pingsan.
Pagi-pagi di beranda ia membaca
Matanya bertanya-tanya
Hidungnya mengendusi lagi
Aroma kembang kenanga membuatnya pusing
Berdenyut, tidak hilang.
Tak jauh jarak waktu 
Ia terbatuk-batuk
Dicarinyalah asal aroma pekat itu
Berkeliling, semua kamar diketuk
Tak satu pun tahu
Ah, rumah besar yang penuh misteri.

 
April, menjelang magrib di tanah rantau.

Aku, Kamu, dan Kenangan yang Kita Sia-siakan

 

Hari ini adalah waktu yang kesekian kalinya kau datang dengan tatapan masam. Aku tahu, ini juga yang kesekian kalinya kamu dicampakkan oleh gadismu. Dan kamu selalu melakukan hal yang sama: datang padaku, lalu menangis sejadi-jadinya.

Bagiku, tidak ada yang begitu berat untuk ditanggung, tapi rindu bisa. Sekuat-kuatnya aku di depanmu, tapi melihatmu tergugu dan jatuh seperti itu membuatku tersiksa. Aku turut merasakan sakitnya.

Beberapa tahun lalu adalah masa di mana kita hanya biasa, lalu tertulari cemburu, hingga kemudian aku suka. Ah iya. Kita memang tidak lama terikat. Tapi kebersamaan kita selama ini begitu mengikat. Aku sampai tidak berani menjamah hati lelaki mana pun, agar tempat mu tidak tergantikan sama sekali. Tapi aku sadar diri. Karena seorang teman, tidak akan pernah kau utamakan.

Hari ini, bersama sneakers yang kita beli bersama waktu itu, kau gunakan ia mendatangiku, selalu. Kau tahu betul caranya membuatku iba, kasihan, tak rela, tak tega. Aduh. Lelaki sepertimu seharusnya jadi pendamping hidup idaman. Tapi sayang, beribu-ribu kali aku sayang, kamu tidak mau aku sayang.

Hari ini, tepat seribu tujuh ratus kali matahari timbul tenggelam diatas kepala kita, dan kau masih terus saja datang padaku. Seperti tak ada bedanya.

Kadang memang, kita suka sekali mencari-cari bahagia ke berbagai tempat. Menyebrangi hamparan samudra, mendaki tinggi gunung, bahkan melintasi sejauh-jauh hati manusia. Padahal yang menenangkan ada disekitar saja. Terduduk diam menunggu, menyeduhkan teh manis, menawarkan pelukan hangat.

Bahkan, kadang bahagia ada dalam ingatan, ada dalam dekapan perasaan, ada dalam setumpuk rindu yang kita sedimentasikan. Terburu-buru berusaha melupakan sebenarnya adalah cara paling menyakitkan untuk melupakan. Kenapa tidak kita rawat saja perasaan itu, kita pupuk lagi rasanya dengan tulus, sehingga kelak melepaskan adalah hal yang melegakan. Bukan keterpaksaan.

Sekarang, aku dan kamu dalam satu jarak sepersekian pandangan. Aku hidangkan tayangan lama. Sepucuk surat yang kau buat naratif dengan dering nada melankolis. Kamu yang dulu masih begitu tulus dan lugu. Kamu yang untuk kesekian kalinya masih jadi nomor satu. Ya. Tiba-tiba tawamu pecah seketika. Menganggap ini lucu, padahal sebenarnya rindu.

Inilah kenangan yang kita sia-siakan. Sebuah bahagia yang ditinggalkan dibelakang. Tanpa dijenguk, tanpa dinantikan. Ia lah kenangan yang merindu di sapa: aku, perempuan yang kau datangi saat sedang kehujanan.

Dipenghujung sore, 11 April 2017.